get app
inews
Aa Text
Read Next : Dikejar Target 3.038 Hektare, Petani Lampung Utara Berpacu dengan Kemarau

Efek MBG, Harga Sayur dan Telur Naik, Omzet Pedagang Anjlok

Minggu, 19 Juli 2026 | 19:47 WIB
header img
Sejumlah pedagang sayuran di Pasar Sentral Kotabumi, saat melakukan aktivitas jual beli. (Foto: Istimewa).

KOTABUMI, iNewsLamsel.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali berjalan seiring dimulainya tahun ajaran baru. Di balik meningkatnya kebutuhan bahan pangan untuk menyuplai program tersebut, pedagang di Pasar Sentral Kotabumi justru menghadapi kenyataan pahit. Harga berbagai komoditas melonjak, tetapi pembeli eceran semakin sepi sehingga omzet dan keuntungan mereka anjlok.

Pantauan di Pasar Sentral Kotabumi, Minggu (19/7/2026), menunjukkan sejumlah komoditas hortikultura mengalami kenaikan signifikan. Harga wortel naik dari Rp10 ribu menjadi Rp15 ribu per kilogram. Timun melonjak lebih dari tiga kali lipat, dari Rp6 ribu menjadi Rp20 ribu per kilogram. Buncis juga naik dari Rp10 ribu menjadi Rp20 ribu per kilogram.

Kenaikan turut terjadi pada komoditas lainnya. Harga bawang putih meningkat dari Rp40 ribu menjadi Rp45 ribu per kilogram, sedangkan bawang merah bertahan di kisaran Rp40 ribu per kilogram. Telur ayam yang sebelumnya sempat turun kini kembali naik menjadi sekitar Rp28 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp25 ribu. Sementara beras premium merek Udang SJ naik dari Rp76 ribu menjadi Rp78 ribu per kemasan lima kilogram, dengan rata-rata kenaikan beras premium mencapai Rp200 hingga Rp400 per kilogram. Harga daging ayam potong pun ikut terkerek hingga Rp4.000 per kilogram.

Mardalena, pedagang sayuran di Pasar Sentral Kotabumi, mengatakan lonjakan harga mulai terasa sejak Program MBG kembali dilaksanakan di sekolah-sekolah. Meningkatnya kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar membuat harga di tingkat pedagang ikut terdorong.

"Yang naik itu wortel, timun, buncis, bawang putih sampai telur dan daging ayam potong. Sejak MBG mulai lagi, permintaan meningkat dan harga ikut naik," ujar Mardalena.

Ironisnya, kenaikan harga tersebut tidak berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan pedagang. Menurut Mardalena, pembeli eceran justru semakin berkurang karena masyarakat menahan belanja akibat harga yang terus merangkak naik.

"Pembeli sekarang sepi. Daya beli masyarakat turun karena harga naik. Kami justru tidak menikmati kenaikan harga itu," katanya.

Keluhan serupa disampaikan Wati, pedagang sayuran lainnya. Ia mengaku keuntungan yang diperoleh merosot drastis sejak Program MBG kembali berjalan.

Dengan modal berjualan sekitar Rp500 ribu per hari, kini Wati hanya mampu membawa pulang keuntungan sekitar Rp50 ribu hingga Rp75 ribu per hari. Jumlah tersebut masih harus dipotong biaya operasional seperti uang salar, kebersihan, dan pungutan lainnya sekitar Rp7 ribu. Padahal saat sekolah libur dan Program MBG belum berjalan, keuntungan hariannya bisa mencapai Rp250 ribu.

"Dulu saat MBG libur, keuntungan bisa sampai Rp250 ribu sehari. Sekarang paling Rp50 ribu sampai Rp75 ribu. Pembeli eceran jauh berkurang. Belum lagi dipotong uang salar, kebersihan dan lain-lain," ungkap Wati.

Para pedagang menilai meningkatnya permintaan bahan pangan untuk Program MBG memang menggerakkan transaksi dalam jumlah besar. Namun, perputaran ekonomi tersebut lebih banyak dinikmati pemasok dan pembelian skala besar, sementara pasar tradisional kehilangan pembeli rumah tangga yang mengurangi konsumsi karena harga semakin mahal.

Pedagang berharap pemerintah segera mengambil langkah menjaga stabilitas harga bahan pokok agar daya beli masyarakat kembali pulih. Mereka meyakini pasar tradisional hanya akan kembali ramai jika harga pangan kembali terjangkau.

"Kami berharap harga kembali normal supaya masyarakat mau belanja lagi dan perdagangan di pasar bisa hidup," tutup Mardalena.

Editor : Heri Fulistiawan

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut