1000 Lilin di Lampung Selatan: Harapan yang Tak Boleh Padam bagi Delapan Korban Arupadhatu 1
LAMPUNG SELATAN, iNewsLamsel.id - Malam di Tugu Bundaran Pancasila, Way Urang, Kalianda, Lampung Selatan, Senin (21/9/2026), terasa berbeda.
Tidak ada gemerlap pesta. Tidak ada sorak-sorai.
Yang ada hanya keheningan, doa, dan seribu nyala lilin yang perlahan menerangi gelap.
Ratusan orang berdiri mengenakan pakaian hitam. Sebagian menggenggam lilin, sebagian lainnya memeluk foto orang-orang yang hingga kini masih dinanti kepulangannya.
Malam itu, mereka datang bukan untuk merayakan sesuatu.
Mereka datang untuk menjaga harapan.
Harapan bagi delapan orang yang hilang bersama kapal Arupadhatu 1 di perairan Selat Sunda.
Lima di antaranya adalah jurnalis yang berangkat menjalankan tugas jurnalistik menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.
Mereka adalah M. Bagus Khoirunnas dari LKBN ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency, dan Donal Husni, jurnalis lepas.
Bersama mereka terdapat tiga awak kapal, yakni Warta sebagai kapten kapal, Surakman, dan Heriyanto.
Lima belas hari telah berlalu.
Namun bagi keluarga dan rekan-rekan mereka, waktu seolah berhenti pada hari ketika Arupadhatu 1 kehilangan jejak.
Telepon yang tak kunjung berdering.
Pesan yang tak berbalas.
Dan kabar yang terus ditunggu.
Di rumah-rumah keluarga mereka, penantian itu belum berakhir.
Karena tidak ada satu pun keluarga yang benar-benar siap menerima kata “hilang”.
Malam itu, seribu lilin menjadi simbol bahwa pencarian belum boleh berhenti dan harapan belum boleh padam.
Ketua PWI Lampung Selatan, Edwin Apriandi, berdiri di tengah kerumunan.
Dengan suara bergetar, ia menyampaikan pesan yang sederhana, namun dalam.
“Setiap lilin yang menyala adalah harapan bahwa mereka akan pulang. Kami tidak melupakan mereka. Harapan itu, apa pun yang terjadi, jangan pernah dipadamkan.”
Kalimat itu kemudian larut bersama doa.
Bukan hanya doa untuk keselamatan delapan orang yang hilang.
Tetapi juga doa untuk keluarga yang setiap hari menunggu kepulangan orang-orang yang mereka cintai.
Untuk anak-anak yang mungkin masih bertanya kapan ayah mereka pulang.
Untuk istri, orang tua, saudara, dan sahabat yang terus berusaha percaya bahwa masih ada jalan untuk sebuah kepulangan.
Di antara kerumunan, air mata tak lagi mampu disembunyikan.
Ada yang menggenggam foto.
Ada yang memeluk erat lilin.
Ada pula yang hanya berdiri diam, menatap nyala api kecil yang bergerak diterpa angin malam.
Namun tidak ada yang memilih menyerah.
Kapolres Lampung Selatan AKBP Deddy Kurniawan turut hadir dalam aksi doa bersama tersebut.
Ia menyampaikan dukacita sekaligus harapan agar delapan orang yang masih dalam pencarian dapat segera ditemukan.
“Kita berdoa bersama, mudah-mudahan mereka semua selamat. Bagi keluarga yang menanti di rumah, semoga kabar terbaik segera datang.”
Sementara itu, upaya pencarian terus dilakukan.
Tim SAR bersama unsur kepolisian, TNI, serta tim pendukung lainnya terus menyisir wilayah perairan Selat Sunda untuk menemukan jejak Arupadhatu 1 dan delapan orang di dalamnya.
Luasnya wilayah pencarian, kondisi perairan, serta faktor cuaca menjadi tantangan tersendiri.
Namun pencarian belum menjadi cerita yang selesai.
Karena bagi keluarga, selama belum ada kepastian, harapan akan selalu hidup.
Dan malam itu, harapan tersebut diwujudkan dalam seribu cahaya.
Satu per satu lilin bergoyang diterpa angin.
Api kecil itu tampak rapuh.
Namun ketika jumlahnya mencapai seribu, kegelapan malam perlahan tersingkir.
Seolah ingin mengatakan bahwa harapan memang bisa terlihat kecil ketika hanya dimiliki satu orang.
Tetapi ketika dijaga bersama-sama, harapan mampu menerangi begitu banyak kegelapan.
Malam semakin larut.
Udara semakin dingin.
Namun lilin-lilin itu belum dipadamkan.
Di bawah langit Way Urang, ratusan orang masih berdiri dalam diam.
Mereka menunggu.
Mereka berdoa.
Dan mereka percaya, pencarian terhadap delapan orang di Arupadhatu 1 belum boleh berhenti.
Sebab selama masih ada keluarga yang menanti, masih ada sahabat yang mengingat, dan masih ada doa yang dipanjatkan, nama mereka akan terus disebut.
Seribu lilin telah dinyalakan malam itu.
Bukan sekadar untuk menerangi kegelapan.
Tetapi untuk mengirimkan satu pesan:
Harapan belum padam.
Dan doa untuk kepulangan delapan orang itu akan terus menyala.
Editor: Heri Fulistiawan