Tukang Sayur di Lampung Selatan Naik Haji, Kisah Haru di Balik 20 Tahun Perjuangan
LAMPUNG SELATAN, iNewsLamsel.id - Kerja keras dan ketekunan akhirnya berbuah manis. Seperti kisah dalam sinetron Tukang Bubur Naik Haji, kali ini benar-benar terjadi di Lampung Selatan. Seorang tukang sayur keliling berhasil mewujudkan impiannya menunaikan ibadah haji setelah menabung selama dua puluh tahun. Namun di balik kebahagiaan itu, terselip haru karena sang istri belum bisa berangkat bersama.
Pagi itu, embun masih menggantung di ujung daun. Di Desa Karang Jaya, Kecamatan Merbau Mataram, Lampung Selatan, Adna Yusri, pria berusia 58 tahun, mulai menyiapkan dagangan sayur mayurnya. Dengan sepeda motor tua yang setia menemaninya, ia menyusuri jalan dan gang sempit, menawarkan dagangan dari rumah ke rumah.

Suara ramahnya sudah akrab di telinga para ibu rumah tangga. Menawarkan sayur segar dengan senyum yang tak pernah pudar, meski panas menyengat atau hujan mengguyur. Baginya, setiap langkah adalah ikhtiar, setiap rupiah adalah harapan.
Dari hasil berjualan itulah, Adna menyisihkan penghasilannya.
Tidak banyak, namun tak pernah putus. Sedikit demi sedikit, rupiah demi rupiah dikumpulkan. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, hingga tak terasa dua puluh tahun berlalu. Saat akan melunasi biaya haji, terkumpul lima ember penuh uang koin pecahan seribu rupiah—saksi bisu dari ketekunan yang ia jalani dalam diam.
Perjuangan panjang itu akhirnya berbuah manis. Nama Adna kini tercatat sebagai calon jemaah haji tahun 2026. Wajah haru dan bahagia tak mampu ia sembunyikan saat mengetahui dirinya akan berangkat ke Tanah Suci.
Namun, kebahagiaan itu belum sepenuhnya utuh. Di balik rasa syukur, terselip kesedihan yang mendalam. Sang istri, Haljariyah, yang selama ini setia mendampingi, belum bisa ikut menunaikan ibadah haji karena keterbatasan biaya.
Meski demikian, keduanya tetap menerima dengan ikhlas. Haljariyah melepas keberangkatan sang suami dengan doa. Adna dijadwalkan berangkat pada 5 Mei 2026 mendatang. Harapan pun masih tersimpan, suatu hari nanti mereka dapat menapakkan kaki di Tanah Suci bersama.

“Saya tidak menyangka bisa sampai di titik ini. Dari jual sayur keliling, saya kumpulkan sedikit demi sedikit. Ini semua karena doa dan kesabaran. Saya berharap suatu hari istri saya juga bisa menyusul.”ujarnya, saat ditemui di kediamannya usai berjualan sayur, Selasa(22/4/2026).
Kisah perjuangan ini pun mendapat apresiasi dari warga bernama Sumiyati. Ia mengenal Adna sebagai sosok yang tekun dan tidak pernah menyerah dalam mencari nafkah.
“Beliau orangnya tekun sekali. Tidak pernah mengeluh. Kami semua ikut bangga dan terharu, "katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Karang Jaya, Rudi Hartono menyebut kisah ini sebagai contoh nyata bagi masyarakat bahwa mimpi besar bisa diraih siapa saja, selama ada kesabaran dan keteguhan hati.
“Ini jadi inspirasi bagi warga. Walaupun dengan keterbatasan, kalau ada niat dan usaha, pasti ada jalan, "ungkapnya.
Kisah Adna Yusri bukan sekadar perjalanan menuju ibadah haji. Ini adalah cerita tentang ketekunan, keikhlasan, dan harapan yang dijaga dalam diam. Bahwa keterbatasan bukanlah penghalang, melainkan alasan untuk terus berjuang.
Editor : Heri Fulistiawan