BANDAR LAMPUNG, iNewsLamsel.id - Mayjen TNI Kristomei Sianturi mulai memberi warna baru dalam kepemimpinan di Komando Daerah Militer (Kodam) XXI/Radin Inten. Sebagai Pangdam pertama di kodam yang baru dibentuk itu, ia tampil dengan perpaduan disiplin militer yang kuat, keteladanan fisik, dan pendekatan humanis kepada masyarakat.
Karakter kepemimpinannya menjadi sorotan setelah sejumlah momen di lapangan memperlihatkan bagaimana seorang jenderal tidak hanya memimpin dari balik meja, tetapi juga memberi contoh secara langsung.
Dalam sebuah kegiatan internal, Mayjen Kristomei tanpa ragu turun ke lantai dan melakukan 45 kali push-up di hadapan prajuritnya. Aksi tersebut bukan sekadar unjuk kemampuan fisik, melainkan simbol bahwa disiplin dan ketahanan seorang prajurit harus dimulai dari pemimpinnya.
Para prajurit pun menghitung setiap gerakan dengan penuh semangat hingga hitungan terakhir, mencerminkan kedekatan emosional antara komandan dan anak buahnya.
Di luar lingkungan militer, Pangdam juga memperlihatkan pendekatan yang berbeda saat bertemu masyarakat. Suasana yang semula formal berubah hangat ketika ia menyapa warga melalui pantun.
"Empat tambah empat sama dengan delapan. Jembatan kuat harus diikat," ucapnya yang langsung disambut tawa warga.
Pantun itu kemudian dilanjutkan dengan pesan yang menegaskan komitmen TNI terhadap masyarakat.
"TNI datang bangun jembatan, semoga bermanfaat buat rakyat."
Interaksi tersebut mendapat sambutan positif. Warga membalas pantun sebagai ungkapan terima kasih atas perhatian TNI, sebelum akhirnya Mayjen Kristomei menutup pertemuan dengan pantun penutup yang kembali memancing tepuk tangan meriah.
Gaya komunikasi yang cair bukan hal baru bagi perwira tinggi kelahiran Kotabumi, Lampung Utara, 6 Mei 1976 tersebut. Sebelum memimpin Kodam XXI/Radin Inten, ia dikenal sebagai salah satu perwira yang lama berkecimpung di bidang penerangan militer.
Lulusan Akademi Militer 1997 itu pernah menjabat Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat (Kadispenad), kemudian dipercaya sebagai Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI pada 2025. Pengalaman tersebut membentuk kemampuannya dalam membangun komunikasi publik yang efektif tanpa meninggalkan karakter khas seorang prajurit.
Karier Mayjen Kristomei juga ditempa melalui berbagai jabatan strategis, mulai dari Komandan Yonif Para Raider 305/Tengkorak, Danmentar Akademi Militer, hingga Wakil Gubernur Akademi Militer.
Pengalaman operasi dan pendidikan yang panjang dibuktikan dengan berbagai brevet elite, baik dari dalam maupun luar negeri, serta sederet tanda kehormatan, termasuk Satyalancana Kesetiaan, Satyalancana Wira Dharma, UNIFIL Medal, Military Valour Medal dari Lebanon, hingga Medali Veteran Perdamaian.
Dengan rekam jejak tersebut, Mayjen TNI Kristomei Sianturi kini memikul tanggung jawab besar membangun Kodam XXI/Radin Inten sebagai satuan baru TNI AD. Keteladanan fisik, komunikasi yang membumi, dan pengalaman panjang di berbagai bidang menjadi modal penting dalam membangun kepercayaan prajurit sekaligus memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat.
Editor : Heri Fulistiawan
Artikel Terkait
