Tumpukan Sampah di Depan UMKO Disulap Jadi Peluang Cuan Warga Sindang Sari
KOTABUMI, iNewsLamsel.id - Tumpukan sampah di pinggir jalan biasanya identik dengan persoalan kebersihan. Namun di Kelurahan Sindang Sari, Kecamatan Kotabumi, Lampung Utara, kondisi itu justru menjadi pemantik perubahan.
Tumpukan sampah di depan Universitas Muhammadiyah Kotabumi (UMKO) mendorong dosen Program Studi Agroteknologi UMKO bersama Ranting ‘Aisyiyah Sindang Sari mengubah cara pandang masyarakat terhadap limbah.
Melalui program “Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pengelolaan Sampah Terpadu dan Pengembangan Pemasaran Kompos”, warga tidak hanya diajak membersihkan lingkungan, tetapi juga belajar memilah, mengolah hingga menjadikan sampah sebagai produk bernilai ekonomi.
Program tersebut dipimpin Kepala Program Studi Agroteknologi UMKO, Yeyen Ilmiasari, bersama dosen Nyang Vania Ayuningtyas Harini dan Della Monica serta mahasiswa Raden Alfizar Koenang dan Risma Nur Amelia.
Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan UMKO, Nyang Vania Ayuningtyas, mengatakan kegiatan itu merupakan Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Pemula melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat tahun usulan 2026.
Program tersebut didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi.
Ada dua jenis sampah yang menjadi perhatian utama, yakni sampah plastik dan sampah organik.
Untuk sampah plastik, tim UMKO memperkenalkan alat pembakar yang dirancang agar proses pengolahan lebih terkendali dibandingkan pembakaran terbuka. Teknologi ini diharapkan mampu mengurangi volume sampah sekaligus menekan persoalan asap dan emisi selama proses pengolahan.
Sementara sampah organik mendapat perlakuan berbeda. Limbah rumah tangga dan bahan organik lainnya diarahkan untuk diolah menjadi kompos.
Yeyen mengatakan tim juga memperkenalkan alat pengolahan sampah organik yang dapat mempercepat proses penguraian. Hasilnya berupa kompos yang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman sekaligus dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai jual.
Di sinilah pesan utama program tersebut dibangun: sampah tidak selamanya harus berakhir di tempat pembuangan.
Dengan pemilahan sejak dari sumber dan pengolahan menggunakan metode yang tepat, sebagian limbah justru dapat menjadi sumber daya yang memberi manfaat ekologis sekaligus ekonomi.
“Teknologi yang diperkenalkan bukan untuk menggantikan peran masyarakat, tetapi membantu warga mengelola sampah secara lebih efektif,” kata Yeyen.
Namun, tantangan terbesar bukan sekadar menyediakan teknologi. Keberlanjutan menjadi kunci agar program tidak berhenti ketika kegiatan pengabdian selesai.
Tim UMKO berharap kelompok masyarakat ‘Aisyiyah Sindang Sari mampu mengoperasikan sekaligus merawat peralatan tersebut secara mandiri. Pengelolaan sampah juga diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan baru di tengah masyarakat.
Sebab, ukuran keberhasilan program bukan hanya seberapa banyak sampah yang berhasil dibersihkan dari pinggir jalan.
Lebih jauh, keberhasilannya akan terlihat ketika warga mulai memilah sampah, mengurangi pembuangan sembarangan, mengolah sampah organik menjadi kompos, dan melihat peluang ekonomi dari limbah yang selama ini dianggap tidak berguna.
Jika pola tersebut berjalan konsisten, tumpukan sampah di depan kampus UMKO bukan lagi sekadar persoalan lingkungan.
Dari tempat yang sebelumnya menjadi titik pembuangan, kawasan itu berpotensi berubah menjadi titik awal lahirnya ekosistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat—dari sampah, menjadi manfaat, bahkan sumber penghasilan.
Editor : Heri Fulistiawan