Alih Fungsi Tambak Jadi Sawah, Petani di Ketapang Lampung Selatan Tanam Padi Biosalin
LAMPUNG SELATAN - Inovasi pertanian lahir dari pesisir selatan Lampung. Warga di Kecamatan Ketapang dan Kecamatan Sragi mulai mengubah lahan tambak yang selama bertahun-tahun tidak produktif menjadi area persawahan. Di atas tanah bekas budidaya udang itu, para petani kini menanam padi biosalin varietas yang mampu tumbuh di lahan dengan kadar garam tinggi.

Gagasan ini berawal dari inisiatif seorang petani bernama Jalu, warga Desa Sidoasih. Melalui uji demplot seluas 2 hektar, percobaan tersebut berhasil menghasilkan panen hingga 15 ton gabah. Keberhasilan itu cepat menyebar dan menarik perhatian berbagai pihak.
Program pengembangan padi biosalin kemudian mendapat dukungan bantuan bibit dari Kejaksaan Tinggi Lampung bersama Bupati Lampung Selatan sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan di wilayah pesisir.

“Sudah lama usaha tambak sering gagal panen. Sekarang kami coba tanam padi biosalin. Harapannya hasilnya lebih pasti dan bisa membantu ekonomi keluarga,” ujarnya di lokasi penanaman.
Ketua teknis kelompok tani, Jalu, menjelaskan padi biosalin dipilih karena mampu beradaptasi di tanah bekas tambak yang memiliki tingkat salinitas tinggi. Namun, prosesnya tidak instan. Lahan harus melalui tahapan pencucian tanah, perbaikan pematang, hingga pengaturan sistem air sebelum ditanami.
“Ini bukan langsung tanam. Ada proses teknis agar kadar garam berkurang. Kami juga melakukan pendampingan supaya petani memahami pola tanam yang tepat,” jelasnya.
Ia bahkan memperkirakan dampak ekonomi yang besar apabila program ini berkembang luas. Dari hasil demplot, satu hektare lahan mampu menghasilkan sekitar Rp40 juta per musim panen.
“Tambak kurang produktif di Ketapang dan Sragi ada sekitar 2.800 hektare. Kalau dikembangkan semua, perputaran ekonomi bisa mencapai ratusan miliar rupiah per tahun,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Berundung, Sulthon, menyambut baik inovasi tersebut karena mampu menghidupkan kembali lahan yang lama terbengkalai.

“Program ini sangat membantu masyarakat. Lahan yang tadinya tidak produktif sekarang bisa dimanfaatkan kembali. Kami berharap hasil panennya berhasil dan meningkatkan kesejahteraan warga,” ujarnya.
Padi biosalin kini menjadi pilot project pertanian air asin pertama di Lampung. Masyarakat berharap pemerintah dapat memberikan dukungan lanjutan berupa program cetak sawah agar lebih banyak lahan tambak dapat dialihkan menjadi area pertanian produktif, sekaligus membuka babak baru pertanian pesisir di Kabupaten Lampung Selatan.
Editor : Heri Fulistiawan