Miris! Puluhan Tahun Siswa SD di Tanggamus Belajar di Sekolah Berdinding Papan dan Atap Bocor
TANGGAMUS - Di tengah keterbatasan fasilitas dan bangunan yang jauh dari kata layak, semangat belajar belasan siswa di Pedukuhan Batu Nyangka, Desa Tanjung Raja, Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus, tak pernah padam.
Setiap pagi, anak-anak itu tetap melangkah menuju sekolah mereka, sebuah bangunan sederhana berdinding papan lapuk dengan atap seng berkarat dan berlubang di banyak bagian. Bangunan itu menjadi saksi perjuangan pendidikan yang bertahan puluhan tahun.
Di ruang kelas sederhana itulah proses belajar mengajar berlangsung. Saat hujan turun, air kerap menetes dari atap dan membasahi ruangan. Namun kondisi tersebut seolah telah menjadi bagian dari keseharian para siswa dan guru.

Sekolah Dasar Negeri (SDN) Satu Atap di wilayah terpencil itu telah berdiri selama puluhan tahun dan melahirkan banyak generasi. Ironisnya, hingga kini sekolah tersebut belum pernah tersentuh pembangunan permanen.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tanggamus, Viktor Libradi, mengaku kondisi sekolah tersebut menjadi perhatian dan akan segera dievaluasi.
“Ini akan kami jadikan bahan evaluasi dan segera dikoordinasikan. Pemerintah belum bisa melakukan renovasi karena status tanah sekolah belum berstatus hibah,” ujarnya.
Di balik bangunan reyot itu, ada pengabdian panjang seorang guru bernama Apriana. Selama 18 tahun, ia setia mengajar anak-anak di sekolah tersebut meski fasilitas serba terbatas.
“Saya sudah 18 tahun mengajar di sekolah ini, belum ada bantuan yang datang. Kami berharap sekolah ini bisa dibangun permanen agar anak-anak belajar lebih nyaman,” katanya.
Harapan itu sederhana, menghadirkan ruang belajar yang aman dan layak bagi anak-anak yang setiap hari menggantungkan masa depan di sekolah itu.
Kondisi memprihatinkan tersebut akhirnya mengundang perhatian banyak pihak. Tokoh masyarakat Lampung, Very Fardinalsyah, datang bersama sejumlah influencer lokal untuk melihat langsung kondisi sekolah.
Dalam kunjungan itu, mereka tidak hanya meninjau bangunan, tetapi juga menyerahkan bantuan berupa susu, buku tulis, dan makanan ringan kepada para siswa.
Very mengatakan, pihaknya siap bergotong royong bersama masyarakat untuk membangun sekolah tersebut secara permanen.
“Karena pemerintah masih terkendala status hibah tanah, kami bersama beberapa rekan, influencer lokal, dan warga setempat bersepakat untuk membantu membangun sekolah ini,” ujarnya.
Saat ini, proses pendataan kebutuhan material pembangunan tengah dilakukan sebagai langkah awal percepatan pembangunan.
Di tengah bangunan yang rapuh, sekolah itu masih berdiri. Bukan karena kuatnya dinding atau kokohnya atap, melainkan karena keteguhan para guru dan besarnya mimpi anak-anak yang terus bertahan mengejar masa depan.
Editor : Heri Fulistiawan