Kasus Pencemaran Mengemuka dari Pabrik Jagung, DPRD Lamsel Pastikan Turun ke Lokasi

Yogi Novan Abitama
Anggota DPRD Kabupaten Lampung Selatan, Yudi Suprayoga (foto: istimewa/iNews.id)

LAMPUNG SELATAN, iNewsLamsel.id – Menindaklanjuti keluhan warga yang terdampak polusi udara, Anggota DPRD Kabupaten Lampung Selatan, Yudi Suprayoga, mengambil langkah tegas. Politisi dari Daerah Pemilihan (Dapil) III ini menegaskan akan segera turun ke lokasi perusahaan bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lampung Selatan untuk mencari solusi terbaik.

 

"Untuk tanggalnya memang belum bisa dipastikan, yang jelas sudah kita bahas bersama di Komisi III. Kami pastikan akan turun secepatnya bersama DLH untuk melihat langsung kondisinya," ujar Yudi pada Selasa, (28/4/2026).

 

Merespons hal yang sama, Kepala Bidang Pengawasan DLH Lampung Selatan, Rudi saat dikonfirmasi membenarkan bahwa kasus ini sudah masuk dalam daftar penanganan instansinya.

 

"Terima kasih, sudah kami agendakan. Mohon bersabar ya untuk turun ke lapangan, karena jadwal aduan saat ini sedang sangat padat. Jumlah pegawai juga terbatas, jadi kami harus melayani sesuai antrian aduan yang masuk duluan," ungkapnya.

 

Pernyataan ini disampaikan menyusul laporan warga Desa Taman Sari, Kecamatan Ketapang, yang mengaku hidup dalam kepungan debu dan limbah selama lebih dari satu tahun terakhir. Diduga kuat, pencemaran tersebut berasal dari aktivitas pabrik pengolahan jagung milik PT Agro Utama Indonesia.

 

Partikel debu halus dan limbah kulit ari jagung tersebut setiap hari beterbangan hingga masuk ke dalam rumah-rumah warga. Kondisi ini tidak hanya membuat lingkungan menjadi kotor, tetapi juga memicu berbagai gangguan kesehatan yang mulai meluas.

 

Salah seorang warga, Saerah, menceritakan betapa beratnya kehidupan mereka sehari-hari. Debu tipis berwarna keabu-abuan terus menempel di lantai, perabotan, hingga pakaian.

 

"Kalau pagi baru disapu, siang sudah kotor lagi. Debunya halus sekali, masuk sampai ke dalam rumah. Kami capek, tapi mau bagaimana lagi," keluhnya saat ditemui, Kamis (23/4/2026). Ia bahkan mengaku harus menyapu rumah hingga puluhan kali dalam sehari demi menjaga kebersihan.

 

Masalah kesehatan menjadi sorotan paling serius. Warga bernama Murod mengaku mengalami gatal-gatal hebat yang sulit disembuhkan. Keluhan serupa juga dialami anak-anak hingga orang dewasa.

 

"Anak-anak sampai garuk-garuk terus. Badan jadi panas dan merah. Sudah coba berobat, tapi kalau debunya masih ada ya kambuh lagi," ungkapnya. Tak jarang, warga terpaksa menggunakan bedak khusus secara rutin hanya untuk meredakan rasa gatal tersebut.

 

Sementara itu, dugaan sementara menyebutkan bahwa polusi ini disebabkan oleh filter cerobong pabrik yang tidak berfungsi optimal. Namun, hingga saat ini belum ada klarifikasi resmi dari pihak manajemen perusahaan.

 

Padahal, keluhan warga sebenarnya sudah disampaikan sejak satu tahun lalu. Sayangnya, hingga kini belum ada tindakan nyata yang dirasakan masyarakat. Saat dikonfirmasi, pihak manajemen diketahui sedang berada di luar kota sehingga tidak dapat ditemui.

 

Kondisi ini memicu kekhawatiran mendalam. Warga mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait untuk segera melakukan investigasi menyeluruh. Mereka khawatir, jika dibiarkan, masalah ini bukan sekadar gangguan biasa, tetapi bisa menjadi awal dari wabah kesehatan yang lebih besar.

Editor : Heri Fulistiawan

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network