JAPFA Perluas Program Gizi Anak di Lampung Selatan, Bangun Generasi Sehat Sejak Usia Dini
BANDAR LAMPUNG, iNewsLamsel.id - Komitmen meningkatkan kualitas gizi anak terus diperkuat. PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) memperluas pelaksanaan program JAPFA for Kids di Kabupaten Lampung Selatan dengan menjangkau lebih banyak sekolah, siswa, dan tenaga pendidik sebagai upaya membangun kebiasaan hidup sehat sejak usia dini.
Pada 2026, program tersebut menyasar 15 sekolah, 2.051 siswa, dan 165 guru. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi berkelanjutan JAPFA untuk mendorong pemenuhan gizi anak sekaligus menanamkan pola hidup sehat di lingkungan sekolah.
Pelaksanaan program dirangkaikan dengan Media Gathering Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJ) 2026 yang digelar pada Kamis (30/7/2026). Melalui kegiatan ini, JAPFA menggandeng insan media untuk memperkuat edukasi publik mengenai pentingnya pemenuhan gizi anak di Indonesia.
Head of Unit RPA Lampung JAPFA, Muzammil, mengatakan Provinsi Lampung menjadi salah satu wilayah pertama yang menjalankan program JAPFA for Kids sejak diluncurkan pada 2008. Hingga kini, komitmen tersebut terus diperluas agar semakin banyak anak mendapatkan manfaat.
"Sejak pertama kali dijalankan pada 2008, Provinsi Lampung menjadi salah satu daerah implementasi program. Kami berharap semakin banyak anak memperoleh manfaat, sekaligus memperkuat kolaborasi bersama pemerintah, sekolah, tenaga kesehatan, masyarakat, dan media untuk mewujudkan generasi Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan berkualitas," ujar Muzammil.
Ia menjelaskan, selama 18 tahun pelaksanaannya di Lampung, program JAPFA for Kids telah menjangkau 69 sekolah dan lebih dari 13.400 siswa.
Program tersebut tidak hanya berfokus pada pemberian asupan gizi, tetapi juga menghadirkan berbagai kegiatan edukatif seperti penerapan empat pilar gizi seimbang, Hari Sehat JAPFA, edukasi konsumsi protein hewani, pemantauan status gizi siswa, pelatihan guru, hingga pendampingan sekolah dalam membangun budaya hidup sehat.
Upaya tersebut dinilai penting karena persoalan gizi anak masih menjadi tantangan nasional. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sekitar 11 persen anak usia 5–12 tahun masih masuk kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).
Temuan JAPFA pada tujuh lokasi pelaksanaan program sepanjang 2024 juga menunjukkan sekitar 10,1 persen siswa masih mengalami gizi kurang maupun gizi buruk.
Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, menjelaskan bahwa JAPFA for Kids menerapkan pendekatan yang terintegrasi, mulai dari intervensi gizi hingga edukasi kepada sekolah dan keluarga.
Menurutnya, siswa yang mengalami malagizi memperoleh tambahan protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan. Program tersebut juga disertai pemantauan berat badan dan tinggi badan melalui aplikasi digital, pembiasaan hidup sehat, pelatihan guru, pendampingan orang tua, serta monitoring berkala agar hasilnya dapat diukur secara berkelanjutan.
Secara nasional, hingga 2026, JAPFA for Kids telah menjangkau 217.706 siswa, 14.713 guru, dan 1.308 sekolah di 106 kabupaten/kota yang tersebar di 28 provinsi.
Program tersebut juga menunjukkan hasil yang positif. Pada 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa yang mengalami gizi kurang dan gizi buruk berhasil meningkat menjadi gizi baik atau sekitar 51,5 persen. Sementara pada 2025, 646 dari 1.034 siswa atau sekitar 62,5 persen berhasil mencapai status gizi baik.
Dalam kesempatan yang sama, JAPFA kembali menggelar Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026 bertema "18 Tahun JAPFA for Kids: Kolaborasi untuk Generasi Penerus Bangsa – Dari Data, Fakta, hingga Cerita Lapangan."
Melalui ajang tersebut, JAPFA mengajak insan media mengangkat berbagai data, fakta, serta kisah inspiratif mengenai upaya pemenuhan gizi anak. Penilaian dilakukan oleh dewan juri yang terdiri dari Ketua PWI Akhmad Munir, fotografer jurnalistik senior Beawiharta, serta pakar gizi masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, M.P.H.
Retno berharap sinergi antara dunia usaha, pemerintah, tenaga kesehatan, sekolah, keluarga, dan media terus diperkuat agar edukasi mengenai pentingnya gizi anak semakin luas, sehingga mampu melahirkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.
Editor : Heri Fulistiawan